Transaksi Derevatif dan Kebangkrutan Ekonomi Global

TRANSAKSI DEREVATIF DAN KEBANGKRUTAN EKONOMI GLOBAL
Amri Amir
(Fak.Ekonomi Univ. Jambi Indonesia)

Transaksi produk derevatif sebagai alat hedging (perlindungan) secara pasti telah menjadi alat spekulasi dan judi yang mempunyai resiko tinggi, filosofi investasi di sekuritas yaitu high risk, higt return tapi nyatanya yang terjadi high risk no return. Buktinya yaitu bangkrutnya bank tertua di Ingris, Baring PLC pada tanggal 24 Februari 1995, Lehman Brothers 2008 dan lain-lain. Transaksi produksi derevatif yang bersifat judi menciptakan ekonomi gelembung (bubble economic) dan akhirnya menjadi penyebab krisis keuangan global. Masih perlukah transaksi derevatif diizinkan?

1. Pendahuluan
Tahun 2008 yang lalu telah terjadi financial global inballance yang disebabkan karena adanya financial inballance di AS. Terjadinya financial inballance di AS dipicu oleh adanya kredit macet perumahan (subprime mortgage). Kredit perumahan ini macet karena diberikan pada nasabah yang tidak layak (subprime) dan tingginya suku bunga yang dibebankan pada nasabah yang tidak layak tersebut yaitu dari 1% menjadi 5,25% pada tahun 2004 – 2006. Financial Inballance di AS merembet kemana-mana yang selanjutnya menyebabkan rontoknya bursa efek di seluruh dunia.
Financial Inballance di AS tersebut disebut-sebut bukan karena kredit macet pada subprime mortgage tetapi disebabkan adanya perusahaan-perusahaan investasi yang bermain atau melakukan transaksi derevatif di sektor keuangan melalui collateralized debt obligations (CDOs). Kerugian akibat transaksi derevatif tersebutlah yang menyebabkan banyak lembaga keuangan terutama yang bergerak dalam sekuritas mengalami kebangkrutan. Transaksi produk derevatif sebagai alat hedging (perlindungan) secara pasti menjadi alat spekulasi yangmempunyai resiko tinggi, filosofi investasi di sekuritas yaitu high risk, higt return tapi nyatanya hanya high risk no return.
Lembaga keuangan AS Lehman Brother yang bangkrut 15 September 2008 menjadi pemicu kebangkrutan lembaga keuangan lain di dunia. Kasus-kasus kebangkrutan lembaga keuangan sekuritas tidak hanya terjadi di negara maju seperti Amerika, di negara berkembangpun mengalami hal yang serupa. Di Indonesia kasus serupa seperti yang menerpa Lehman Brothers dialami pula oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas yang merembet pada Bank Century dan Sarijaya Sekuritas (Infobank. April 2009).

2. Transaksi Produk Derevatif dan Kebangkrutan Ekonomi
Lembaga keuangan yang bankrut karena melakukan transaksi derevatif bukan hanya terjadi pada akhir 2008 dan saat ini saja, tetapi telah terjadi sejak tahun 1995. Adalah bank tertua di Ingris, Baring Private Limited Company pada tanggal 24 Februari 1995 dinyatakan bankrut lantaran kalah dalam transaksi derevatif di bursa Osaka senilai Rp 2,22 triliun (Gatra, 15 April 1995). Dampak dari kebangkrutan Baring Plc menyebabkan pasar sekuritas di seluruh dunia terguncang.
Kekalahan dalam transaksi derevatif pada tahun 1995 bukan hanya menerpa Baring Plc saja, banyak perusahaan serupa di Indonesia yang sekarat dan menderita kerugian akibat transaksi derevatif ini seperti, PT.Sinar Mas Group, Dharmala Group Inti Indo Rayon, Moderen Photo dan Bank Duta. Anak perusahaan Jerman yang beroperasi di Amerika yaitu Metallgeselschaft AG mengalami kerugian sekitar Rp. 2,7 triliun. Kodak mengalmi kerugian sebesar US$ 220 juta, Banc One di AS merugi sebesar US$ 170 juta, Procter & Gamble rugi sebesar US$ 100 juta. Semuanya akibat kalah dalam transaksi derevatif yang mengandung unsur spekulasi yang sangat tinggi.
Kasus-kasus yang menimpa perusahaan Baring Plc dan lain-lain pada tahun 1995 seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi perusahaan sekuritas dan perbankan di dunia. Dari kejadian-kejadian tahun 1995 dan berulang pada tahun 2008 dan 2009 ini membuktikan bahwa filosofi transaksi deravatif bukanlah high risk, high return tetapi yang benar adalah high risk, no return. Kebangkrutan Lehman Brothers, Baring PLC dan lain-lain telah menyebabkan krisis keuangan global dan saat ini ekonomi dunia telah pula mulai mengalami krisis yang dinyatakan lebih parah dari Great Depretion pada tahun 1929.
Muncul pertanyaan, mengapa transaksi produk derevatif lebih banyak merugikan dari pada menguntungkan. Jawabnya, pertama, untung yang diterima oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang produk derevatif bersifat sementara, selain itu transaksi derevatif bersifat zero sum game. Bersifat sementara, karena transaksi derevatif yang memberikan keuntungan pada perusahaan yang “main” dikarenakan ada kerugian yang diderita oleh “kawan main”-nya. Kedua, karena masih bermain dan jelas bahwa transaksi derevatif mempunyai resiko yang tinggi, maka jika tidak untung yah buntung alias rugi besar. Ketiga, unsur spekulatif menjadi lebih dominan dalam transaksi derevatif dibandingkan dengan unsur hedging.
Apa hanya itu saja kelemahan transaksi derevatif ?. Jawabnya tidak. Masih ada kelemahan lain dari transaksi derevatif terutama yang bersifat spekulatif. Kelemahan lain dari transaksi derevatif yaitu; (kelima), bahwa produk-produk yang diperdagangkan hanyalah “pergerakan harga” produk atau “indeks harga saham” dan lain-lain tanpa menyentuh posisi produk yang menjadi acuan (underlying). Dilihat dari apa yang diperdagangkan pada produk-produk derevatif, jelas isi produknya tidak berujud seperti angin dalam gelembung. Dengan kata lain yang diperdagangkan tidak menyangkut produk secara fisik tapi produk berupa indeks yang sifatnya abstrak. Karena tidak menyentuh langsung produknya, sudah pasti tidak berpengaruh terhadap sektor riil. Naik turunnya indeks atau harga produk derevatif tidak berdampak terhadap perkembangan sektor riil, terhadap penyerapan tenaga kerja dan lain-lain.
Selain itu, transaksi derevatif tidak bertujuan untuk memiliki produk (kelemahan ke enam), tapi hanya untuk mencari keuntungan melalui spekulasi. Sifat spekulasi atau dengan kata lain untung-untungan (zero sum game) inilah yang menjadikan banyak investor yang bergerak dalam transaksi derevatif sering mengalami kerugian. Untung-untungan artinya, jika tidak untung yah buntung atau kalau tidak menang yah kalah. Kemenangan seseorang berarti kekalahan orang lain. Hal ini disebabkan karena, spekulasi seperti itu sama dengan judi. Itu sebabnya dalam Ekonomi Syariah transaksi atau aktivitas ekonomi yang mengandung spekulasi (judi/ meisir) itu diharamkan.
Dalam aktivitas ekonomi yang bersifat judi, jelas tidak terjadi peningkatan produksi atau penambahan nilai barang dan jasa, yang ada hanyalah perpindahan barang dari yang satu ke yang lain dan seterusnya. Karena itu, transaksi produk derevatif tidak berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi secara riil, selain itu transaksi derevatif menimbulkan ekonomi gelembung (bubble economic) dan jika gelembung itu pecah maka habislah semuanya tidak arti seperti kondisi keuangan global saat ini.

3. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa transaski derevatif lebih banyak kelemahannya dibandingkan dengan kebaikannya. Transkasi derevatif yang membuat kebangkrutan, bukan saat ini saja terjadi tetapi sejak lama (yang terdeteksi yaitu sejak tahun 1995). Kelemahan transaksi derevatif yaitu bersifat spekulatif yang bersifar judi mempunyai resiko yang tinggi, tidak berpengaruh langsung pada produk yang menjadi acuan dan selanjutnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap sektor rill, lebih banyak bersifat judi (zero sum game).
Mengingat transaksi derevatif lebih banyak kelemahannya dari pada kebaikkan, sebaiknya transaksi derevatif hanya untuk produk yang bersifat perlindungan (hedging) selain dari itu tidak diberlakukan lagi. Selain itu, para investor lebih baik menanamkan modalnya pada sektor riil yang lebih nyata dan bagi umat Islam yang memiliki modal sebaiknya tidak terlibat dalam transaksi derevatif karena hukumnya haram. Bagi yang beragama Islam dihimbau untuk menerapkan sistem keuangan Syariah yang melarang/mengharamkan segala traksasi yang tidak jelas (gharar) dan bersifat judi (meisir) seperti transaksi produk derevatif.

Satu Balasan ke Transaksi Derevatif dan Kebangkrutan Ekonomi Global

  1. Leta mengatakan:

    This is the 2nd post, of yours I read through. Still I enjoy this particular one, “Transaksi Derevatif dan Kebangkrutan Ekonomi Global Amri Amir FE-UNJA” the very best.

    Take care ,Julius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: