Zakat Versus Riba

Oleh : Amri Amir

(Fak Ekonomi Univ.Jambi)

1. Pengantar

Nilai ekonomi tertinggi dalam ekonomi Islam dan ekonomi konvensional adalah kesejahteraan. Karena itu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap orang dalam hidup ini adalah kesejahteraan yang tinggi. Sejahtera menurut ekonomi konvensional adalah memiliki material yang melimpah atau dapat memaksimumkan kepuasannya dengan baik (kaya raya). Lain halnya dalam ekonomi Islam, sejahtera menurut Islam adalah FALAH, yaitu kemuliaan, kemenangan dalam hidup dunia dan akhirat. Dengan demikian  kesuksesan yang hakiki dalam ekonomi Islam berupa tercapainya kesejahteraan yang holistik dan seimbang, yaitu mencakup dimensi material maupun spiritual serta mencakup individual maupun sosial serta kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Jika kondisi ideal ini tidak dapat diharmoniskan maka kesejahteraan di akhirat tentu lebih diutamakan, sebab ia merupakan suatu kehidupan yang abadi dan lebih bernilai (valuable) dalam segala hal. Selain itu bila kita berusaha mendapatkan kesejahteraan akhirat, maka secara otomatis akan dapat dicapai kesejahteraan di dunia.

Dalam pencapaian tujuan ekonomi yaitu kesejahteraan, ada perbedaan yang signifikan antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Dalam ekonomi Islam pencapai tujuan kesejahteraan atau falah didasarkan pada pendekatan proses bukan pendekatan hasil (Didin Hafidhudin, 2003) seperti dalam ilmu ekonomi konvensional. Dalam pendekatan proses, maka etika/moral dalam ekonomi sangat dikedepankan. Etika/moral yang dimaksud adalah moral yang sesuai dengan syariat Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ada tiga pilar sebagai penompangnya. Tiga pilar tersebut adalah keadilan, keseimbangan dan kemaslahatan. Aktifitas ekonomi yang berkeadilan adalah aktivitas ekonomi yang menghindari 1) eksploitasi berlebihan, 2) excessive hoardings/unproductive, 3) spekulatif, dan 4) kesewenang-wenangan. Pilar keseimbangan adalah adanya kesimbangan aktivitas antara sektor riil dengan sektor finansial, antara pengelolaan resiko dan pengembalian (risk-return), antara aktivitas bisnis dan aktivitas sosial, antara aspek spiritual dan aspek material serta azas manfaat dan kelestarian lingkungan. Sedangkan pilar kemashlahatan yaitu aktivitas yang berorientasi pada perlindungan keselamatan kehidupan beragama, proses regenerasi, serta perlindungan keselamatan jiwa, harta dan akal. Mashlahah adalah segala bentuk keadaan baik material maupun non material yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Mashlahah dapat pula diartikan sebagai mendapatkan manfaat material dan spritual atau mendapat berkah dalam hidup.

Karena itu, ekonomi Islam sangat berbeda dengan ekonomi konvensional. Ciri-ciri utama atau karakteristik Ekonomi Islam yaitu sebagaai berikut:

1).  Mengakui hak milik individu terhadap kapital (property right)

2). Diharamkannya transaksi berbasis bunga (riba), ghoror (spekulasi), maysir (judi), maksiyat dan sejenisnya.

3).  Berfungsinya institusi zakat.

4).  Mengakui mekanisme pasar (market mechanism).

5).  Mengakui motif mencari keuntungan (profit motive)

6).  Mengakui kebebasan berusaha (freedom of enterprise).

Eksistensi ke-Imanan dalam prilaku ekonomi manusia menjadi titik krusial yang perlu dipahami untuk membedakan konsep ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Karena faktor ke Imanan inilah yang membuat praktek-praktek ekonomi Islam berbeda dengan praktek dalam ekonomi konvensional. Semakin tinggi Iman seseorang akan semakin tinggi motif ekonominya untuk memenuhi kewajibannya kepada Allah dan memenuhi kebutuhannya dalam rangka kemaslahatan dan kebaikan bagi umat. Sebaliknya makin rendah Iman seseorang, maka sifat egoisme makin tinggi, makin materialis dan rasionalitasme-nya akan semakin jelek/berkurang.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, maka dalam ekonomi Islam, selain ada prinsip-prinsip pokok seperti yang telah diungkapkan di atas, ada beberapa prinsip dasar dan prinsip utama lainnya yang harus diterapkan oleh setiap Muslim dan Ummat Manusia dalam aktivitas ekonominya. Ada lima prinsip dasar Islam yang menjadi acuan Ekonomi Islam yaitu :

1). Tauhid, yang mereflesikan bahwa penguasa dan pemilik tunggal atas jagad raya ini adalah Allah SWT artinya segala aktivitas yang dilakukan termasuk aktivitas ekonomi merupakan ibadah kepada Allah.

2). Khilafah yang mempresentasikan bahwa manusia adalah khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini dengan dianugerahi seperangkat potensi spritual dan mental serta kelengkapan sumberdaya materi yang dapat digunakan untuk hidup dalam rangka menyebarkan misi hidupnya.

3). Adll (keadilan) dan mizan (seimbang) menurut Chapra (2001) merupakan konsep yang tidak terpisahkan degan Tawhid dan Khilafah karena prinsip ‘Adll merupakan bagian yang integral dengan tujuan syariah (maqasid al-Syariah). Konsekuensi dari prinsip Khilafah dan ‘Adll menuntut bahwa semua sumberdaya yang merupakan amanah dari Allah harus digunakan untuk merefleksikan tujuan syariah antara lain yaitu:

(1). Pemenuhan kebutuhan (need fullfilment),

(2). Menghargai sumber pendapatan (respectable  source of  earning),

(3). Distribusi pendapatan dan kesejahteraan yang merata (equitable

distribution of income and  wealth),

(4). Stabilitas dan pertumbuhan (growth and stability).

4). Nubuwwah, prinsip ini mengajarkan bahwa segala tindakan, sikap dan prilaku bisnis umat Islam harus meneladani Nabi Muhammad yaitu, bahwa misi hidupnya adalah untuk meningkatkan harkat umat manusia.

5). Prinsip Tazkiyah (pembersihan diri) dan ma’ad (keakhiratan) yang menegaskan bahwa kegiatan ekonomi yang diupayakan manusia tidak semata-mata ditujukan pada aspek material semata tetapi harus ditujukan pada pembersihan diri dalam rangka menuju hari akhirat.

Perlu diingat bahwa segala sesuatu yang diperoleh merupakan pemberian Allah, karenanya harus digunakan sesuai dengan kehendak Allah dan dikeluarkan Zakat-nya dan sadaqah bagi muslim yang belum berhasil sebagai implementasi dari rasa sosial yang tinggi  yang merupakan perwujudan dari prinsip Tauhid, Khilafah, Adll (Keadilan), Nubuwah dan Tazkiayah.

2. Zakat dan Fungsinya

“Pungutlah zakat dari kekayaan mereka, engkau bersihkan dan sucikan mereka dengannya” (Qur’an. 9: 103).  Zakat adalah ibadah dalam bidang harta yang mengandung hikmah dan manfaat yang demikian besar dan mulia, baik yang berkaitan dengan orang yang berzakat (muzakki), penerimanya (mustahik), harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat keseluruhan (Abdurahman Qadir. 1998). Hikmah dan manfaat tersebut antara lain tersimpul sebagai berikut:

1). Zakat sebagai perwujudan keimanan kepada Allah Swt. Mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan materialistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki. Hal itu sejalan dengan firman Allah swt dalam Surat at-Taubah ayat 103 dan surat ar-Ruum ayat 39. Dengan bersyukur, harta dan nikmat yang dimiliki akan semakin bertambah dan berkembang.

2). Zakat merupakan hak mustahik, karena itu zakat berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka, terutama fakir miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah Swt, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasat yang mungkin timbul dari kalangan mereka, ketika mereka melihat orang kaya yang memiliki harta. Zakat sesungguhnya bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan para mustahik, terutama fakir miskin yang bersifat konsumtif dalam waktu sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan kepada mereka, dengan cara menghilangkan ataupun memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita. Tegasnya, zakat adalah upaya memerangi kemiskinan.

3). Zakat sebagai pilar amal bersama (jama`i) antara orang-orang kaya yang berkecukupan hidupnya dan para mujahid yang seluruh waktunya digunakan untuk berjihad di jalan Allah, yang karena kesibukannya tersebut, ia tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk berusaha dan berikhtiar bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya. Di samping sebagai pilar amal bersama, zakat juga merupakan salah satu bentuk konkret dari jaminan sosial yang disyariatkan oleh ajaran Islam. Melalui syariat zakat, kehidupan orang-orang fakir, miskin, dan orang-orang menderita lainnya, akan terperhatikan dengan baik.

4). Zakat sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana, maupun prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi, sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia Muslim.

5). Zakat untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, sebab zakat itu bukanlah membersihkan harta yang kotor, akan tetapi mengeluarkan bagian dari hak orang lain dari harta kita yang kita usahakan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan Allah Swt yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 267.

6). Dari sisi pembangunan kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu instrument pemerataan pendapatan dengan zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapat, economic with equity (Ahmad Muflih Saefuddin. 1986). Sedangkan menurut Mustaq Ahmad (2001), zakat adalah sumber utama kas Negara dan sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan al-Qur`an.

7). Dorongan ajaran Islam yang begitu kuat kepada orang-orang yang beriman untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah menunjukkan bahwa ajaran Islam mendorong umatnya untuk mampu bekerja dan berusaha sehingga memiliki harta kekayaan yang di samping dapat memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, juga berlomba-lomba menjadi muzakki. Zakat yang dikelola dengan baik akan mampu membuka lapangan kerja dan usaha yang luas, sekaligus penguasaan asset-asset oleh umat Islam.

Dari apa yang telah dijelaskan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sebagai sumber pendapatan negara, maka Zakat merupakan pembersih harta yang dimiliki oleh orang kaya. Diambilnya zakat selain sebagai ke taqwaan ummat Muslim pada Allah SWT, dengan zakat diharapkan kemiskinan dapat dihilangkan. Karena zakat memang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan.

  1. 3. Dampak Riba Bagi Ekonomi

Ciri ekonomi Islam yang utama dibandingkan dengan ekonomi konvensional adalah adanya larangan mengambil riba atau bunga (interest) dalam setiap transkasi. Riba jelas-jelas dilarang dan diharamkan dalam agama Islam. Pengharaman riba itu termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti berikut  ini :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”(Al-Baqarah : 275-276).

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatlah pada Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. “ (Ali Imraan : 132).

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka sebenarnya riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridoan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya). “ (Ar-Ruum : 39).

Ayat-ayat Al-Qur’an yang dikutif di atas sangat jelas dan tegas dalam melarang riba dalam aktivitas ekonomi. Bahkan bukan hanya itu saja, kekejian riba bisa kita dapatkan bukti-bukti pelanggarannya dengan jelas dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya riba itu dosanya lebih besar daripada perzinahan (antara saudara dengan saudara, ataupun ayah dengan anak kandungnya) yang dilakukan sebanyak tujuh kali. Menurut Al-Khatib riba bukan hanya kabirah (dosa besar), namun ia adalah akbar al-kabair (paling besarnya dosa) karena Allah telah memberikan ultimatum perang terhadap mereka yang melakukan praktek riba itu. Sangat keliru untuk mengambil sebuah deduksi, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa orang pada saat mengambil kesimpulan dari surat Ar-Ruum ayat 130, yang menyatakan bahwa riba yang diharamkan itu adalah riba yang berlipat-lipat. Padahal realitasnya adalah bahwa riba sekecil apapun jumlahnya itu adalah dilarang tanpa melihat kualifikasinya.

Hendaklah dicatat disini bahwa larangan melakukan riba dengan cara yang berlipat ganda sebagaimana yang dinyatakan pada ayat di atas ada relevansinya dengan praktek yang umum terjadi dimasa itu dan bukan memberikan kualifikasi terhadap pelarangan riba itu. Lebih dari itu, jumlah hutang akhirnya juga akan bertambah dan berlipat ganda, tak peduli berapa jumlah bunga yang dipatok oleh pelaku riba itu. Inilah watak tabiat inheren riba yang tidak ada seorangpun sanggup untuk menolaknya.

Berdasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW, maka Konferensi kedua Islamic Research Council Al-Azhar sepakat mengeluarkan resolusi bahwa mengambil hasil dari hutang dalam bentuk apapun adalah haram, baik pinjaman itu untuk konsumsi ataupun untuk produksi. Tidak ada bedanya antara riba dan bunga. Perbedaan adalah hanya pada tingkatannya. Bahkan riba dan bunga itu bisa bermakna sama. Bunga yang saat ini dianggap sebagai sesuatu yang “rasional” pada hari ini, bisa saja ia akan memanifestasi sebagai riba pada esok hari.

Penggunaan harta orang lain dengan cara yang tidak adil, dalam bentuk dan lewat cara apapun, adalah dilarang di dalam Al-Qur’an. Riba sebagaimana didefinisikan di atas, secara definitif mencakup mengkonsumsi (memakan) kekayaan orang lain dengan cara yang bathil.  Riba sangat berseberangan secara langsung dengan spirit kooperatif yang ada dalam ajaran Islam. Orang yang kaya, dalam ajaran Islam, diharuskan untuk memberikan hak-hak orang miskin dengan cara membayar zakat dan kemudian memberikan sedekah sebagai tambahan dari zakat itu. Islam tidak mengizinkan kaum muslimin untuk menjadikan kekayaannya sebagai kendaraan untuk mengisap darah orang-orang miskin.  Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 130 menyatakan bahwa kebahagian (falah) itu akan diperoleh dengan cara meninggalkan sistem riba ini, dan pada saat yang sama Al-Qur’an menyatakan bahwa kebahagiaan tidak mungkin akan diperoleh lewat praktek ribawi. Karena riba itu berdasar pada ketidakadilan, demikian. Maulana Maududi membeberkan kejahatan-kejahatan riba antara lain sebagai berikut  :

  1. Riba akan meningkatkan rasa tamak, menimbulkan rasa kikir yang berlebihan, mementingkan diri sendiri, keras hati, tirani dan memuja uang.
  2. Riba akan menimbulkan kebencian dan permusuhan dan bukannya simpati dan kooperasi.
  3. Riba akan mendorong terjadinya penimbunan akukmulasi kekayaan dan akan menghambat adanya investasi langsung dalam perdagangan. Dan jika di investasi kan, maka itu akan dilakukan demi kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat.
  4. Riba akan mencegah terjadinya sirkulasi kekayaan karena kekayaan itu hanya akan berada di tangan-tangan pemilik modal.

Diwany (2005) menyatakan bahwa sistem keuangan yang diterapkan di dunia saat ini yang didasarkan pada bunga (riba) bertentangan dengan konsep “entropi”. Entropi menggambarkan tingkat ketidakteraturan dalam suatu sistem fisika, dan secara alamiah laju peningkatan level ketidakteraturan atau entropi akan menurun dari waktu ke waktu. Sistem keuangan saat ini yang menerapkan bunga (interest) menurut Diwany menyebabkan laju penurunan ketidakteraturan yang semakin tingi dari waktu kewaktu. Diwany menjelaskan bagaimana kerusakan lingkungan yang semakin parah akibat pembukaan lahan pertanian dengan dana pinjaman yang didasarkan bunga. Berdasarkan analisis Michael Lipton tahun 1992 (dalam Diwany. 2005) menyimpulkan bahwa, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah insentif untuk menerapkan teknik pertanian yang memperhatikan konservasi lingkungan. Selanjutnya Lipton menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga secara dramatis pada tahun 1977 – 1979 dan bertahan sampai sekarang, telah  meningkatkan insentif dalam kalangan rumah tangga, lingkungan bisnis dan pemerintah untuk menghabiskan sumber-sumber daya alam sekarang serta mengabaikan akibat yang ditimbulkannya di masa yang akan datang. Dari fakta ini, dapat disimpulkan bahwa makin tinggi suku bunga maka makin besar kemungkinan rusaknya lingkungan dan akan semakin besar sumber daya yang dikuras, akibatnya akan semakin cepat bumi ini hancur.

Fakta lain dari bunga (interest) atau “riba” menunjukkan bahwa tidak saja membuat orang miskin tetapi juga membuat banyak negara (berkembang) makin miskin dan makin besar hutangnya. Hutang negara berkembang lebih dari tiga trillion US dollars dan masih terus tumbuh. Hasilnya adalah setiap laki-laki, wanita dan anak-anak di negara berkembang (80% dari populasi dunia) memiliki hutang $600  atau sekitar Rp 5,6 juta, (kurs 1 $=Rp9500), dimana pendapatan rata-rata masyarakat pada negara yang paling miskin kurang dari satu dollar per hari.

Gambar 3.

Perkembangan Total Hutang Negara-Negara Berkembang 1972 – 2000

Sumber: Bank Indonesia (2009).

Selain itu, sistim bunga dalam sektor keuangan telah menimbulkan krisis ekonomi. Sepanjang abad 20, (Roy Davies dan Glyn Davies. 1996) dalam buku mereka a history of money from ancient times to the present day, menyatakan bahwa telah terjadi lebih dari 20 krisis (kesemuanya merupakan krisis sektor keuangan). Pasar finansial menjadikan dunia ini melengkung, sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada dibalik kaki langit. Pasar finansial selalu dipenuhi oleh informasi yang tidak pasti dan tidak lengkap, tidak transfaran (Smick. 2008). Itulah sebabnya menurut Smick, krisis keuangan yang terjadi pata tahun 2007 – 2008 measih merupakan krisis awal. Ini berarti bahwa krisis- krisis lain akan terus bermunculan dan waktu terjadinya dari krisis satu ke krisis lain semakin singkat.

Berdasarkan fakta yang ada, ternyata negara yang ekonominya tidak terpengaruh secara signifikan terhadap krisis ekonomi global yang terjadi akhir 2008 adalah negara-negara yang tidak berhubungan dengan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan yang ada di Amerika Serikat. Dan dari perkiraan ternyata juga bahwa, negara yang berbasis komoditi (bukan keuangan/financial seperti AS) telah mengalami pemulihan ekonomi dari krisis global lebih dulu dibandingkan dengan negara-negara yang berbasis pada sektor keuangan. Hal ini diungkapkan oleh Norbert Walter (Rini, 2009) bahwa,  menurut Norbert Walter, Indonesia akan keluar dari kriris ekonomi lebih awal karena, ekonomi Indonesia berbasis pada komoditi yang secara pasti tidak tergantung pada tingkat bunga (interest)

Fakta lain menunjukkan bahwa sektor keuangan yang menggunakan sistim non riba ternyata lebih mampu bertahan dari krisis keuangan. Lihat saja bank-bank Islam di Malaaysia, Indonesia, Arab Saudi, ternyata tidak terpengaruh dengan krisis keuangan yang terjadi akhir-akhir ini. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa sistem keuangan yang didasarkan riba atau bunga sudah pasti sudah tidak bisa diandalkan di masa datang.

4. Upaya Peningkatan Zakat dan Penanggulangan Riba

Berdasarkan apa yang telah diungkapkan di atas bahwa Zakat merupakan salah satu sumber bagi pendapatan negara pada masa Rasulullah. Dengan zakat Rasulullah mampu mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat. Selanjutnya telah disampaikan pula di atas bukti-bukti empiris yang menunjukkan rusaknya perekonomian pada sistem ekonomi yang dilandaskan pada riba (interest). Dilihat dari fungsi zakat yang merupakan alat untuk mengentaskan kemiskinan dan dilain pihak bahwa riba dapat memiskinkan masyarakat  maka perlu upaya-upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan (falah) bagi manusia melalui peningkatan peran lembaga zakat dan menghilangkan praktek riba dalam aktivitas ekonomi. Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kesejahteraan (falah) bagi umat manusia melalui peningkatan peran Zakat dan lembaga Zakat serta penghilangan sistem ekonomi yang berlandaskan riba dapat dijelaskan sebagai berikut:

1). Peningkatan Peran Zakat dan Lembaga Zakat.

Masalah utama yang dihadapi pengumpulan maupun lembaga zakat di Indonesia meliputi :

  1. Belum dijalankannya pengumpulan zakat secara profesional.
  2. Lembaga pengelola zakat bersifat informal dan temporer.
  3. Sasaran penyampaian Zakat (mustahik) tidak punya prioritas.
  4. Belum mencerminkan syiar Islam.

Karena itu, dalam rangka meningkatkan peran Zakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka perlu dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1). Optimalisasi sosialisasi tentang zakat

2). Membangun citra lembaga zakat

3). Membangun SDM dibidang Zakat ini.

4). Menciptakan standarisasi penerimaan dan penyaluran zakat

5). Dibentuk badan resmi Non Departemen

6). Zakat dijadikan sebagai sumber pendapatan negara yang khusus dalam penggunaannya.

2). Penanggulangan Riba

Riba diharamkan dalam setiap transaksi maupun aktivitas ekonomi dalam sistem ekonomi Islam. Dari fakta-fakat yang telah dijelaskan di atas telah terbukti baik dari ayat-ayat Al Qur’an maupun bukti-bukti empiris bahwa dengan menerapkan riba dalam aktivitas ekonomi telah menimbulkan kehancuran ekonomi, kemiskinan, inflasi, krisis ekonomi dan perusakan lingkungan. Karena itu aktivitas ekonomi yang dilandaskan pada prinsip bunga atau riba perlu dihilangkan. Untuk menghilangkan praktek riba dalam aktivitas ekonomi maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1). Optimalisasi Sosialisasi sistem ekonomi Islam dan tingginya daya rusak riba dalam kehidupan ekonomi.

2). Adanya kemauan politik (politic will) dari pemerintah untuk menerapkan sistem ekonomi Islam.

3). Memperbanyak dan mempermudah pembentukan lembaga keuangan non riba ( Bank Islam, BPR Islami, BMT dll).

4). Perlu dilakukan proyek-proyek percontohan dalam bentuk Desa/Kecamatan Syariah.

5). Memberikan bantuan modal bagi masyarakat dengan sistem bagi hasil.

Daftar Pustaka

Abdurrahman Qadir . 1998. Zakat dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial.  PT Raja Grasindo Persada, Jakarta.

Ahmad Muflih Saefuddin,  1986. Pengelolaan Zakat ditinjau dari Aspek Ekonomi, Bontang, Badan Dakwah Islamiyah, LNG, 1986, hal.99

Bank Indonesia. Laporan Tahunan 2002  dan  2008.

Biro Pusat Statistik. 2001. Statistik Indonesia 2001.

Biro Pusat Statistik. 1995. Statistik 50 Tahun Indonesia Merdeka.

Chapra, Umer M. 2001. Masa Depan Ilmu Ekonomi. Gema Insani Press, Jakarta

Didin Hafdhudin. 2003. Mengutamakan Cara dan Proses yang Benar. Ekonomi Syariah Dalam Sorotan. Yayasan Amanah, MES dan PNM.

Diwany, Tarek El. 2005. The Problem With Interest. Terjemahan Amdiar Amir dan Ugi Suharto. Akbar Media  Eka Sarana

Rini Widuri Ragilia. 2009. Indonesia keluar Krisis Paling Awal. Media Indonesia 15 Agust 2009.

Mankiw, N. Gregory. 2007. Makro Ekonomi. Edisi Keenam. Penerbit Erlangga. Jakarta, Indonesia.

Michael Parkin . 1997. Economy Macro (Power Point). Web Site. Michael Parkin. September 1997.

Monzer Kahf . 1995. Ekonomi Islam, Telaah Analitik Terhadap System Ekonomi Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Mustaq Ahmad. 2001. Etika BIsnis Dalam Islam. Pustaka al-Kautsar. Jakarta.

M. Zainal Muttaqin. 1997. Kewajiban Menjadi Muzakki. Makalah pada seminar zakat antara cita dan fakta, Bogor, Januari 1997.

Smick, David.M. 2008. The World is Curved. Portofolio New York. Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Daras Books. 2009.

dpbs@bi.go.id, down load,  30 April 2009.

Satu Balasan ke Zakat Versus Riba

  1. mahendros mengatakan:

    artikel Pak Prof ni penuh inspirasi.. mohon kritik tulisan ini Pak Prof, berhubungan dg BANK SENTRAL:

    http://politik.kompasiana.com/2014/08/27/uang-pks-hancur-bag-2-683266.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: